Cerpen “Rapuh di Bulan Bahasa”

GambarMalam yang hening ini, aku menangis mengingat kehilanganmu tepat setelah dua tahun aku dan Rio menjalani suatu ikatan cinta dari kelas 2 SMP sampai aku lulus dan melanjutkannya di Sekolah Menengah Atas 1 Kuta Selatan. Sungguh ku sesali saat itu, Rio memutuskan perjalanan kisah cinta kita berdua karena aku terlalu sibuk dengan kegiatan di sekolah dibandingkan waktu dengannya. “huuuhhh…. aku gak bisa terpuruk dalam kesedihan seperti ini, aku harus tunjukan bahwa aku mampu jadi yang terbaik”. Semangat ku dalam hati.

Pagi-pagi sekali terdengar suara mama  yang mengetuk pintu kamar ku, “Sinta… bangun sayang. Katanya sekarang ada gladi Bulan Bahasa”. “ohh my god. I’am forget. Yaya ma….”, sahutku yang masih mengantuk dan segera belari ke kamar mandi.

Aku melihat ke cermin, “yaammpuunnn.. mata ku kenapa ini? Pasti gara-gara aku nangis kemarin!!! Huuhhh!!!”. teriakanku terdengar oleh mama, sehingga mama menyuruhku cepat-cepat karena waktu telah menunjukkan pukul 07.07 WITA dan berpikir “07.07??? siapa ya pagi-pagi udah ada yang kangen sama aku. Ah.. lupakan.. gak penting”. Kemudian berbalik badan dan tak sadar lemari aku tabrak, spontan berteriak “aduhhhh!!!”

Tibalah aku di Garuda Wisnu Kencana lokasi yang akan di pergunakan dalam acara Bulan Bahasa nanti sore, Rio sang Mantan Kekasihku sudah datang dan duduk manis di depan panggung yang sedang memainkan gitarnya.

Aku berjalan menuju teman-temanku berkumpul tepat disamping Rio dan pura-pura cuek dengan keberadaan Rio. Rio menatapku, dan ekspresinya seperti orang yang merasa bersalah. Tiba-tiba Rio menghampiriku.

“Sint… aku mohon jangan diemin aku seperti ini. Sudah tiga bulan kamu diemin aku seperti ini setelah kita pisah. aku tahu kamu marah karena aku telah menyakiti hatimu. Maukah kamu memaafkan aku?”, ucap Rio.

“Kenapa?? Udah 2 tahun kita jalan sama-sama. Kenapa betapa mudahnya kamu datang ke kehidupanku dan pergi begitu saja. Cuma karena aku gak pernah ada waktu buat kamu? Aku sakit hati, Ri!!! Aku rela kehilangan mimpi-mimpi dan ambisiku sedangkan kamu gak pernah tahu akan pengorbananku membuatmu kembali padaku!!!!”, jawabku. “Aku mengerti ,sint.. seharusnya aku tahu kamu gak akan pernah mau memaafkan aku. Aku sudah membuatmu sakit hati. Terserah… kamu mau memaafkan aku atau tidak dan aku hanya ingin kita menjadi seperti dulu”.

“Rio. Aku sudah memaafkanmu” ucapku dan Rio menjawab, “Ya, sint..”.

Tak lama kemudian, sahabatku Ikta menghampiriku.

“eehhheemmmm… balikan lagi iya???” ucap Ikta.

“enggak kok”, sahutku. Padahal aku berharap banget Rio meminta balikan lagi. “Bohong banget Sinta ini lho”, jawab Ikta. Rio kembali menerangkan, “Aku dan Sinta sudah baikan. Kita gak akan diem-dieman lagi”. Sinta dan Ikta saling bertatapan. Sedetik kemudian Mereka pun tertawa.

Tak terasa matahari mulai terbenam. Saatnya siswa yang berperan dalam mengisi acara Bulan Bahasa segera mempersiapkan diri. Aku segera menggunakan kostum. Aku tampil dengan membawakan lagu “Butiran Debu”.  Semua bertepuk tangan untukku.

Setelah aku selesai tampil, beberapa menit kemudian, aku menerima pesan singkat dari Rio.

Aku tahu lagu itu untukku. Maafkan aku, Sint. Aku tidak pantas untukmu. Tadi aku Cuma minta maaf sama kamu agar kita gak diem-dieman terus. Aku sudah mendapatkan penggantimu. Please… lupakan aku, aku gak mau kamu beban pikiran gara-gara aku. Aku yakin kamu pasti mendapatkan yang lebih baik dari aku. Walaupun status kita gak bersama lagi, aku mohon kita tetap jadi sahabatJ.”

Ku tak kuasa menahan air mata dipelupuk ini, dalam hatiku berkata “Baru aja tadi nge-fly… uh..Bodohnya aku… seharusnya tadi aku gak terlalu ngarep”.

Tepat banget aku melihat Rio bersama pasangannya yang baru namanya Anggra teman sekelasnya. Kemudian sahabatku Ikta membantu meredakan tangisku “Ya sudahlah, sedih, senang… kan datangnya satu paket”.

Dalam hatiku berkata “Aku tidak ingin menjadi sosok butiran debu di Bulan Bahasa ini. Mungkin dua tahun bersamanya cukup sampai disini. Gak usah lagi deh aku ngarepin yang impossible. thanks for the memories of the past two years”. Sambil belalu meninggalkan Rio.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerpen “Cinta Dalam Kopi”

CINTA DALAM KOPIGambar

Saat pulang sekolah, Febry menuliskan kisahnya di dalam buku biru bersampulkan rahasia. “Aku tidak tahu harus kemana, ke kanan atau ke kiri ataukah aku harus mundur?.   Terlihat jelas saat ini Febry sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Tak lama kemudian, Caca menghampiri Febry yang sedang menulis sesuatu. Hingga membuat ia terkejut dan segera menutup buku misterius tersebut.

“Hey. Are you okay?”, Tanya Caca.

“Oh. Hm. Caca. Kamu gak pulang?”, Jawab Febry menggerutu ketakutan.

“Oalah. Nih dia nih kalau kamu kebanyakan kegiatan, efek nge-blank. Untung aku ke sini. Kita ada ekstra Journalist sekarang, Feb. Kamu lupa ya?”, membalas pertanyaan Febry sambil menatap wajahnya.

“Oh My God. Aku lupa. Thanks ya udah ingetin aku. Caca memang best deh buat aku.”, Febry segera memasukkan buku sejuta rahasia itu ke dalam tasnya. Tak ada seorang pun yang tahu isi dari buku tersebut.

“Eh. Lu kalau beginian aje, Lu puji-puji Gue.”, Caca mengeluarkan dialeknya yang khas. Gak salah kalau Febry selalu nyaman dengan Caca saat dia lagi sedih, karena Caca selalu menghiburnya dengan berbagai cara sampai sahabatnya itu menunjukkan garis lengkung senyum dibibirnya.

“Pada umumnya dalam penulisan cerpen dalam majalah memiliki nilai dramatik. Hasil tulisannya bisa mengandung emosi, tergantung si penulis berada dalam kondisi batin bahagia atau menangis. Baik… sampai disini dulu, Jum’at depan kalian harus sudah mengumpulkan karyanya dan tidak ada kata maaf untuk kalian yang belum selesai. Terimakasih.”. Penjelasan Bu Tara sangat menyentuh batin Febry. Perlahan dia mengeluarkan buku misteri itu dan mulai menulis. Hidup ini bagaikan Cerita Pendek. Terdapat dua unsur emosi, yaitu bahagia dan menangis.

Setiap detik ia menemukan sesuatu yang menyentuh batinnya, Febry selalu menulis di buku itu untuk mencurahkan segala isi hati. Dan sampai sekarang tiada orang yang pernah menanyakan buku itu. Karena mereka menganggap buku yang dimilikinya hanya buku orat-oret biasa. Buku itu bukan buku biasa, buku itu dinamakannya Diary Kopi.

“Feb. Mari pulang”.

“Ok. Sayonara”. Itulah ucapan pulang yang hanya mereka berdua yang memilikinya.

Sesampainya di rumah, Febry melihat Handphonenya sejenak. Dan ia berkata dalam hati, “Belum ada juga”. Sedih dicampurkan kecewa karena disaat Febry lelah, sosok itu tak ada untuk menghiburnya. Sosok manusia yang menjadi First Love Febry ini bernama Hery. Menunggu kabar dari dia itu rasanya seperti kambing congek. Niat untuk menulis di Diary Kopi, tapi ranjang yang menggoda menariknya masuk ke dalam mimpi. Tak lama kemudian, Febry terbangun dan segera melihat Handphonenya. Ternyata satu pesan dari Hery, jelas Febry merasa senang dan kegalauannya itu terobati.“Miss you, Ming-ming”. Pesan Hery kepada Febry. Hery memanggil Febry dengan sebutan ‘Ming-ming’ karena Febry sayang dengan kucingnya yang bernama Ming-Ming. Dari situlah Hery meamanggil Febry ‘Ming-Ming’.

Berbunga-bunga rasa di dada, segera membalasnya, “Miss you too, Guguk”. Balas Febry dengan sebutan ‘Guguk’, karena Hery pecinta Anjing. Mereka memang memiliki hewan peliharaan yang berbeda. Ada yang mengatakan Anjing dan Kucing tak pernah menyatu. Tapi kali ini, Bagai Magnet Beda Kutub, artinya walaupun berbeda tapi tetap menyatu.

Hanya satu pesan yang Hery kirim mampu menyemangatkan Febry. Dan kemudian ia menulis. “Yes ! My Motivation is You”.

Keesokan harinya, di kantin Febry duduk seorang diri. Melihat orang disekeliling dengan pasangan masing-masing. Caca muncul dibalik tembok perpustakaan yang sedang berjalan ke arah Febry. Setibanya di hadapan Febry yang sedang melamun, Caca berkata “Terdapat segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat, cukup untuk membangunkan bahwa kamu sama sekali tidak sendiri”. Sambil mengacak poni Febry.

“Eh. Kamu Ca. Hm. Tapi…Aku masih…”, kalimat terputus dan disambungkan oleh Caca, “emangnya Hery kemana?”.

“Entah.”, singkat padat dan penuh makna balasan dari Febry.

“Oalah. Feb. You masih punya Caca yang selalu menemani kamu. Apa sih arti Caca disamping kamu, Feb?”

“Caca itu orangnya cerewet, gak pernah diem untuk………bikin aku happy”.

“ah. Kamu Feb, kirain apaan. Hampir aku mau musuhin kamu”. Febry akhirnya tertawa mendengar kata-kata dari Caca.

Pulang sekolah Hery mengirim pesan singkat ke Febry, saat Febry ada Club Ekonomi.

“Feb. Temui aku di tempat biasa”. Tanpa basa-basi lagi, Febry meminta izin untuk pulang lebih awal. Pembina pun mengizinkannya.

Setibanya di Coffee Café, Hery memesan minuman biasa yang mereka berdua sukai yaitu Coffee Milk. Febry merasa ada sesuatu yang aneh dari Hery. Febry memutar sendok kearah kopi tersebut. Tak disadari Hery berkata, “Guk gak pernah nyatu dengan Ming”. Febry kaget dan menjawabnya, “Why?”. “Feb. Aku mati rasa”. “Tapi kita udah 3 tahun berjalan mengarungi waktu, saling mengisi, dan kamu pernah berjanji bahwa kita kan selalu bersama sampai kita menutup mata”. “itu dulu, Feb.” Hery mengambil ranselnya dan meninggalkan Febry seorang diri. Febry menangis, air mata itu menetes di kopi. Dan Febry menulis lagi. “Kamu abu-abu!”. Hery memutuskan Febry tanpa alasan yang pasti.

Kondisi ini sangat membuatnya frustasi.  Tetapi lebih baik frustasi daripada menyesal karena tidak pernah mencobanya. Tetapi itu bukan akhir dari perjalanan.

Next Day.

Di Coffee Cafe, Febry menuliskan sesuatu di Diary Kopi.

“Daripada ku terdiam, duduk menunggu kanan atau kiri, aku memilih untuk maju. Maju lebih baik daripada berhenti berjalan. Berjalan maju menggapai harapan itu tidak secepat berjalan maju seperti biasanya. Jika terburu-buru aku bisa terjatuh. Tetapi itu lebih baik daripada bertaruh pada jalan yang tak pasti”. Setelah ia menulis, ia melihat Hery sedang dengan teman sekelasnya yang bernama Anggra.

“Ya ! itu benar-benar dia. Tuhan. Dia memang bosan terhadapku”. Hery sempat melihat Febry, namun Hery mengabaikan keberadaan Febry.

“Kamu tahu Her, aku sekarang suka Coffee Milk dan sering datang kesini itu karena mu. Disini tersimpan sejuta kenangan bersamamu. Setiap melihat kopi seperti melihat kamu”. Segera meninggalkan Café.

5 bulan berlalu, Febry belum bisa melupakan sang mantan. Saat membagikan Majalah sekolah hasil karya arek-arek Jourstuba (Joursnalist Tunas Bangsa), Febry melihat Hery yang sedang sendiri, namun di sebelahnya terdapat Anggra bersama Toni. Disitulah pertanyaan besar bagi Febry. Dari informasi yang di dengar Febry, ternyata Anggra dan Hery tidak memiliki suatu hubungan.

Hery membuka majalah tersebut dan membaca judul cerpen Cinta dalam Kopi by Febriana. Dengan menghayati Hery membaca cerpen itu, ia membaca cerpen Cinta dalam Kopi seperti mendengar curahan hati dari Febry. Bahwa Febry masih mengingat Hery. Diakhir cerpen terdapat kalimat “Cinta itu seperti kopi panas, paling enak diminum saat panas, tapi resikonya cepat habis, biar tidak cepat habis ya diminumnya pelan-pelan tapi resikonya keburu dingin”

Kutipan itu memiliki makna “Cinta indah di awal pertemuan, bila cinta dibawa dengan emosi resikonya cepat berakhir. Namun jika terlalu menikmati cinta berlama-lama, resikonya seseorang itu akan cepat bosan dengan cinta”. Hery terdiam saat membaca kalimat tersebut.

1 Minggu kemudian, Hery melihat Febry di televisi yang sedang menerima penghargaan Penulis Muda dari Kementrian Pendidikan Nasional. Hery tak menyangka, akhir-akhir ini ia tak melihat Febry, karena Febry sedang berada di Jakarta. Hery segera mengirim pesan ke Febry.

“Hari ini pastilah hari yang bahagia buat kamu, aku ikut bahagia karena dari tempatku berada aku bisa melihatmu, melihatmu tersenyum, walaupun aku tak bersamamu lagi. Aku mengutip salah satu tulisan cerpenmu Cinta itu seperti kopi panas, paling enak diminum saat panas, tapi resikonya cepat habis, biar tidak cepat habis ya diminumnya pelan-pelan tapi resikonya keburu dingin akulah cinta yang kamu maksud dalam kopi itu. Maafkan aku meninggalkanmu, Febry. Tapi sebenarnya aku tak benar-benar ingin melakukannya. Aku hanya ingin abadi di dalam hatimu. Aku gak mau nanti aku menghancurkan impianmu menjadi penulis hanya karena focus terhadapku. Dan sekarang kamu telah mendapatkan semua itu. Congratulation. From: Guguk”.

Tetes demi tetes airmata mengalir di pipi Febry membaca pesan tersebut.

Next Day. Febry kembali bersekolah. Tak disengaja ia bertemu Hery. Dengan saling melemparkan senyum. Pulang sekolah tidak disengaja lagi mereka berada di Coffee Café. Mereka kembali berkomunikasi.

“kamu tahu kenapa aku senang berada disini?” Tanya Hery.

“Gak. Memang ada apa?”. Feby bertanya balik.

“Ada cintaku dalam kopi ini”. Mereka pun tertawa bersama.

Febry kembali menulis “setelah langit, setelah matahari yang selalu menerangi membayar semua harapan”, kemudian menutup Diary Kopinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Naskah Film Pendek “Di Akhir Persimpangan”

NASKAH FILM PENDEK

 Gambar

DI AKHIR PERSIMPANGAN

Oleh:

Ni Luh Putu Sintya Dewi

 

 

Pemain:

Leony

Febri

Oscar

Bu Anggi

 

Musik Pendukung:

“Winda – Kutemukan Penggantimu”

“Macell – Peri Cintaku”

“Sherina – Symphoni Hitam”

 

Sinopsis:

Menceritakan bahwa begitu banyak pilihan yang dihadapi tetapi tetap satu tujuan yaitu maju ke depan tidak memandang ke kiri, ke kanan maupun ke belakang sampai masalah itu terjawabkan.

 

(Setting: di dalam kelas saat pulang sekolah).

Leony           : (Kini sampailah aku di Persimpangan.  Aku tidak tahu harus kemana, ke kanan atau ke kiri ataukah aku harus mundur?). (Menyibakkan poninya).

Febri             : Hey. Are you okay?

Leony           : Hm. Yeah. (Menganggukkan kepala).

Febri             : Oh. Kirain ada masalah. Yuk. Go to home. Matahari sudah tepat diatas kepala kita nih. Ntar panasss dijalan. (Mengibaskan tangannya).

Leony           : (Tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya).

——

(Setting: di dalam Kelas saat pembelajaran dimulai).

Bu Anggi      : Pada umumnya teater tradisional memiliki ciri-ciri umum seperti nilai dan laku dramatik dilakukan secara spontan dan dalam satu adegan terdapat dua unsur emosi sekaligus, yaitu tertawa dan menangis.

Leony           : (Hidup ini bagaikan teater. Terdapat dua unsur emosi sekaligus, yaitu tertawa dan menangis. Hah. Pas banget).

—————– Bel berbunyi.

Bu Anggi      : Oke. Minggu depan, kita akan lanjutkan materi ini lagi sedikit.

——

(Setting: di Kantin).

Leony           : (Melihat orang disekeliling dengan pasangan masing-masing). (Terdapat segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat cukup untuk membangunkan bahwa aku sama sekali tidak sendiri). (Menyibakkan poninya). Duh. Please deh. Jangan ingat-ingat yang sudah berlalu. Aku masih punya sahabat yang masih ngerti keadaanku.

Oscar            : Hey. Minum saja? Gak lapar?

Leony           : No. (Menggelengkan kepala).

Oscar            : Jutek. Ada masalah ya?

Leony           : (Menggelengkan kepala sambil meminum sebotol teh C2 rasa lemon).

Oscar            : Trus?

Leony           : Aku baik-baik saja, Oscar (Tatapan penuh makna).

—————– Bel berbunyi.

Oscar            : Aku…. (Kalimat terputus) Okay. Jika tak mau bicara sekarang. Cari aku kapanpun kamu mau. (Memberi secarik kertas dengan dan berlalu meninggalkan Leony).

Leony           : (Melihat punggung Oscar dan kertas yang diberi dari bangku dengan alis penuh tanya).

——

(Setting: di dalam Kelas).

Leony           : (Sesungguhnya berada di persimpangan jalan bukan hanya sekali ini ku alami. Tapi aku selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Memilih satu jalan dan ternyata salah sehingga sampai ke persimpangan jalan yang lain).

Febri             : Lagi galau? Aris atau Oscar?

Leony           : Gak. Iuh. Apa sih. Ngawur.

Febri             : Ciyus? Gak mau cerita nih?

Leony           : Aris terlalu abu-abu buat aku. Gak jelas. Datang dan pergi seenaknya (Membuka buku Geografi).

Febri             : Oscar?

Leony           : Eh. Aku pinjam catatan Geografimu ya? (Mencoba mengalihkan pembicaraan).

Febri             : Hey! Leony… sudah 2 tahun aku mengenalmu. Baru aku tahu selain kamu pintar meneliti tapi kamu juga pintar lari.

Leony           : Lari? Apa hubungannya? (Mengangkat alis dengan penuh tanya).

Febri             : Ya gitu deh. Kamu lari dari pokok pembicaraan kita.

Leony           : Hehe. (Tampang polos).

Oscar            : Attention please. Hasil ulangan Matematika akan dibagikan. (Membagikan hasil ulangan dan melihat hasil Leony yang sangat mengecewakan). Leony?

Leony           : (Ekspresi kecewa dengan mulut terbuka sedikit).

——

(Setting: di Pantai dengan panorama sunset yang indah).

Leony           : (Kondisi ini sangat membuatku frustasi.  Tetapi lebih baik frustasi daripada menyesal karena tidak pernah mencobanya. Aku bisa saja gagal, tetapi itu bukan akhir dari perjalanan. Aku harus segera bangkit dan berlari). (Melihat secarik kertas yang pernah Oscar beri yang berisi emoticon senyum).

——

(Setting: di dalam Kelas).

Leony           : Oscar, ajari aku Matematika ya?

Oscar            : Sip. di Perpustakaan ya belajarnya?

Leony           : Okay. (Menuju Perpustakaan).

——

(Setting: di Perpustakaan).

Oscar            : Tumben sepanjang sejarah, sang juara umum bertahan, sekarang Remidi Matematika.

Leony           : Nyindir?

Oscar            : Kenyataan. Bukan sindiran.

Leony           : Okay.

Oscar            : Mulai ya… 2log8 = 3, artinya 2 pangkat berapa hasilnya 8. Maka hasilnya 3. Ngerti?

Leony           : Ngerti. (sambil senyum-senyum).

Oscar            : Leony…

Leony           : Oscar…

Oscar            : Mau dilanjutin gak nih?

Leony           : Mau… (Mengangguk dengan senyum-senyum)

Oscar            : Coba soal yang ini, 6log15…. Caranya : 3log15 per 3log6 = jadi…. (Menatap Leony) kita jadian yuk?

Leony           : Hah? Serius?

Oscar            : Serius. Mau? (Meyakinkan).

Leony           : (Menganggukkan kepala dan tersenyum kecil).

Oscar            : Jadi, kalau pacarnya lagi jelasin. Di dengerin baik-baik ya?

Leony           : (Menganggukkan kepala sambil meremas buku dengan perasaan riang).

——

(Setting: di Pantai dengan panorama sunset yang indah).

Leony           : (Daripada ku terdiam, duduk menunggu kanan atau kiri, aku memilih untuk maju. Maju lebih baik daripada berhenti berjalan. Berjalan maju menggapai harapan itu tidak secepat berjalan maju seperti biasanya. Jika terburu-buru aku bisa terjatuh. Tetapi itu lebih baik daripada bertaruh pada jalan yang tak pasti di persimpangan).

——

(Setting: di dalam Kelas dengan kondisi ulangan semesteran).

(Leony mengumpulkan soal dan jawaban terlebih dahulu dibandingkan Oscar).

——

(Setting: di dalam kelas saat pembagian Rapor Semesteran).

Bu Anggi      : Selamat Leony. Kamu bertahan menjadi Juara Umum dari semua kelas. Nilai kamu melampaui semuanya. Pertahankan ya. (Menyerahkan Rapor dan Menyalami tangan Leony).

Oscar            : (Tersenyum) Selamat Leony.

Leony           : (Tersenyum).

——

(Setting: di Pantai dengan panorama sunset yang indah).

Leony           : (Inilah akhir persimpanganku, aku telah menemukan seseorang yang menuntunku berjalan maju. Ketika aku jatuh, aku tidak merasa sendiri. Ada tempat bagiku untuk berbagi rasa sakit agar sakit itu dapat berkurang dan ada tempat bagiku untuk berbagi kebahagiaan supaya kebahagiaan itu berlipat ganda). (Menatap langit yang kemerahan). Terimakasih Oscar, kamu pengganti dia yang dulu abu-abu, hadirmu putih bagiku dan kamu merubah segalanya.

 

(Menutup Diary)…

 

—— 0 ——

Posted in Uncategorized | 2 Comments