Cerpen “Cinta Dalam Kopi”

CINTA DALAM KOPIGambar

Saat pulang sekolah, Febry menuliskan kisahnya di dalam buku biru bersampulkan rahasia. “Aku tidak tahu harus kemana, ke kanan atau ke kiri ataukah aku harus mundur?.   Terlihat jelas saat ini Febry sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Tak lama kemudian, Caca menghampiri Febry yang sedang menulis sesuatu. Hingga membuat ia terkejut dan segera menutup buku misterius tersebut.

“Hey. Are you okay?”, Tanya Caca.

“Oh. Hm. Caca. Kamu gak pulang?”, Jawab Febry menggerutu ketakutan.

“Oalah. Nih dia nih kalau kamu kebanyakan kegiatan, efek nge-blank. Untung aku ke sini. Kita ada ekstra Journalist sekarang, Feb. Kamu lupa ya?”, membalas pertanyaan Febry sambil menatap wajahnya.

“Oh My God. Aku lupa. Thanks ya udah ingetin aku. Caca memang best deh buat aku.”, Febry segera memasukkan buku sejuta rahasia itu ke dalam tasnya. Tak ada seorang pun yang tahu isi dari buku tersebut.

“Eh. Lu kalau beginian aje, Lu puji-puji Gue.”, Caca mengeluarkan dialeknya yang khas. Gak salah kalau Febry selalu nyaman dengan Caca saat dia lagi sedih, karena Caca selalu menghiburnya dengan berbagai cara sampai sahabatnya itu menunjukkan garis lengkung senyum dibibirnya.

“Pada umumnya dalam penulisan cerpen dalam majalah memiliki nilai dramatik. Hasil tulisannya bisa mengandung emosi, tergantung si penulis berada dalam kondisi batin bahagia atau menangis. Baik… sampai disini dulu, Jum’at depan kalian harus sudah mengumpulkan karyanya dan tidak ada kata maaf untuk kalian yang belum selesai. Terimakasih.”. Penjelasan Bu Tara sangat menyentuh batin Febry. Perlahan dia mengeluarkan buku misteri itu dan mulai menulis. Hidup ini bagaikan Cerita Pendek. Terdapat dua unsur emosi, yaitu bahagia dan menangis.

Setiap detik ia menemukan sesuatu yang menyentuh batinnya, Febry selalu menulis di buku itu untuk mencurahkan segala isi hati. Dan sampai sekarang tiada orang yang pernah menanyakan buku itu. Karena mereka menganggap buku yang dimilikinya hanya buku orat-oret biasa. Buku itu bukan buku biasa, buku itu dinamakannya Diary Kopi.

“Feb. Mari pulang”.

“Ok. Sayonara”. Itulah ucapan pulang yang hanya mereka berdua yang memilikinya.

Sesampainya di rumah, Febry melihat Handphonenya sejenak. Dan ia berkata dalam hati, “Belum ada juga”. Sedih dicampurkan kecewa karena disaat Febry lelah, sosok itu tak ada untuk menghiburnya. Sosok manusia yang menjadi First Love Febry ini bernama Hery. Menunggu kabar dari dia itu rasanya seperti kambing congek. Niat untuk menulis di Diary Kopi, tapi ranjang yang menggoda menariknya masuk ke dalam mimpi. Tak lama kemudian, Febry terbangun dan segera melihat Handphonenya. Ternyata satu pesan dari Hery, jelas Febry merasa senang dan kegalauannya itu terobati.“Miss you, Ming-ming”. Pesan Hery kepada Febry. Hery memanggil Febry dengan sebutan ‘Ming-ming’ karena Febry sayang dengan kucingnya yang bernama Ming-Ming. Dari situlah Hery meamanggil Febry ‘Ming-Ming’.

Berbunga-bunga rasa di dada, segera membalasnya, “Miss you too, Guguk”. Balas Febry dengan sebutan ‘Guguk’, karena Hery pecinta Anjing. Mereka memang memiliki hewan peliharaan yang berbeda. Ada yang mengatakan Anjing dan Kucing tak pernah menyatu. Tapi kali ini, Bagai Magnet Beda Kutub, artinya walaupun berbeda tapi tetap menyatu.

Hanya satu pesan yang Hery kirim mampu menyemangatkan Febry. Dan kemudian ia menulis. “Yes ! My Motivation is You”.

Keesokan harinya, di kantin Febry duduk seorang diri. Melihat orang disekeliling dengan pasangan masing-masing. Caca muncul dibalik tembok perpustakaan yang sedang berjalan ke arah Febry. Setibanya di hadapan Febry yang sedang melamun, Caca berkata “Terdapat segaris senyum dan tatapan mata yang bersahabat, cukup untuk membangunkan bahwa kamu sama sekali tidak sendiri”. Sambil mengacak poni Febry.

“Eh. Kamu Ca. Hm. Tapi…Aku masih…”, kalimat terputus dan disambungkan oleh Caca, “emangnya Hery kemana?”.

“Entah.”, singkat padat dan penuh makna balasan dari Febry.

“Oalah. Feb. You masih punya Caca yang selalu menemani kamu. Apa sih arti Caca disamping kamu, Feb?”

“Caca itu orangnya cerewet, gak pernah diem untuk………bikin aku happy”.

“ah. Kamu Feb, kirain apaan. Hampir aku mau musuhin kamu”. Febry akhirnya tertawa mendengar kata-kata dari Caca.

Pulang sekolah Hery mengirim pesan singkat ke Febry, saat Febry ada Club Ekonomi.

“Feb. Temui aku di tempat biasa”. Tanpa basa-basi lagi, Febry meminta izin untuk pulang lebih awal. Pembina pun mengizinkannya.

Setibanya di Coffee Café, Hery memesan minuman biasa yang mereka berdua sukai yaitu Coffee Milk. Febry merasa ada sesuatu yang aneh dari Hery. Febry memutar sendok kearah kopi tersebut. Tak disadari Hery berkata, “Guk gak pernah nyatu dengan Ming”. Febry kaget dan menjawabnya, “Why?”. “Feb. Aku mati rasa”. “Tapi kita udah 3 tahun berjalan mengarungi waktu, saling mengisi, dan kamu pernah berjanji bahwa kita kan selalu bersama sampai kita menutup mata”. “itu dulu, Feb.” Hery mengambil ranselnya dan meninggalkan Febry seorang diri. Febry menangis, air mata itu menetes di kopi. Dan Febry menulis lagi. “Kamu abu-abu!”. Hery memutuskan Febry tanpa alasan yang pasti.

Kondisi ini sangat membuatnya frustasi.  Tetapi lebih baik frustasi daripada menyesal karena tidak pernah mencobanya. Tetapi itu bukan akhir dari perjalanan.

Next Day.

Di Coffee Cafe, Febry menuliskan sesuatu di Diary Kopi.

“Daripada ku terdiam, duduk menunggu kanan atau kiri, aku memilih untuk maju. Maju lebih baik daripada berhenti berjalan. Berjalan maju menggapai harapan itu tidak secepat berjalan maju seperti biasanya. Jika terburu-buru aku bisa terjatuh. Tetapi itu lebih baik daripada bertaruh pada jalan yang tak pasti”. Setelah ia menulis, ia melihat Hery sedang dengan teman sekelasnya yang bernama Anggra.

“Ya ! itu benar-benar dia. Tuhan. Dia memang bosan terhadapku”. Hery sempat melihat Febry, namun Hery mengabaikan keberadaan Febry.

“Kamu tahu Her, aku sekarang suka Coffee Milk dan sering datang kesini itu karena mu. Disini tersimpan sejuta kenangan bersamamu. Setiap melihat kopi seperti melihat kamu”. Segera meninggalkan Café.

5 bulan berlalu, Febry belum bisa melupakan sang mantan. Saat membagikan Majalah sekolah hasil karya arek-arek Jourstuba (Joursnalist Tunas Bangsa), Febry melihat Hery yang sedang sendiri, namun di sebelahnya terdapat Anggra bersama Toni. Disitulah pertanyaan besar bagi Febry. Dari informasi yang di dengar Febry, ternyata Anggra dan Hery tidak memiliki suatu hubungan.

Hery membuka majalah tersebut dan membaca judul cerpen Cinta dalam Kopi by Febriana. Dengan menghayati Hery membaca cerpen itu, ia membaca cerpen Cinta dalam Kopi seperti mendengar curahan hati dari Febry. Bahwa Febry masih mengingat Hery. Diakhir cerpen terdapat kalimat “Cinta itu seperti kopi panas, paling enak diminum saat panas, tapi resikonya cepat habis, biar tidak cepat habis ya diminumnya pelan-pelan tapi resikonya keburu dingin”

Kutipan itu memiliki makna “Cinta indah di awal pertemuan, bila cinta dibawa dengan emosi resikonya cepat berakhir. Namun jika terlalu menikmati cinta berlama-lama, resikonya seseorang itu akan cepat bosan dengan cinta”. Hery terdiam saat membaca kalimat tersebut.

1 Minggu kemudian, Hery melihat Febry di televisi yang sedang menerima penghargaan Penulis Muda dari Kementrian Pendidikan Nasional. Hery tak menyangka, akhir-akhir ini ia tak melihat Febry, karena Febry sedang berada di Jakarta. Hery segera mengirim pesan ke Febry.

“Hari ini pastilah hari yang bahagia buat kamu, aku ikut bahagia karena dari tempatku berada aku bisa melihatmu, melihatmu tersenyum, walaupun aku tak bersamamu lagi. Aku mengutip salah satu tulisan cerpenmu Cinta itu seperti kopi panas, paling enak diminum saat panas, tapi resikonya cepat habis, biar tidak cepat habis ya diminumnya pelan-pelan tapi resikonya keburu dingin akulah cinta yang kamu maksud dalam kopi itu. Maafkan aku meninggalkanmu, Febry. Tapi sebenarnya aku tak benar-benar ingin melakukannya. Aku hanya ingin abadi di dalam hatimu. Aku gak mau nanti aku menghancurkan impianmu menjadi penulis hanya karena focus terhadapku. Dan sekarang kamu telah mendapatkan semua itu. Congratulation. From: Guguk”.

Tetes demi tetes airmata mengalir di pipi Febry membaca pesan tersebut.

Next Day. Febry kembali bersekolah. Tak disengaja ia bertemu Hery. Dengan saling melemparkan senyum. Pulang sekolah tidak disengaja lagi mereka berada di Coffee Café. Mereka kembali berkomunikasi.

“kamu tahu kenapa aku senang berada disini?” Tanya Hery.

“Gak. Memang ada apa?”. Feby bertanya balik.

“Ada cintaku dalam kopi ini”. Mereka pun tertawa bersama.

Febry kembali menulis “setelah langit, setelah matahari yang selalu menerangi membayar semua harapan”, kemudian menutup Diary Kopinya.

About dewisintya

No Pain No Gain
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Cerpen “Cinta Dalam Kopi”

  1. mas bento says:

    keren , inspiratif …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s